Merkurius adalah planet yang menarik. Planet pertama yang mengorbit bintang kita, Matahari, Merkurius sebagian besar diabaikan oleh publik dibandingkan planet seperti Mars. Namun, informasi terbaru yang dikumpulkan dari pesawat luar angkasa MESSENGER menunjukkan bahwa Merkurius mungkin sama menariknya dengan Mars, atau bahkan lebih menarik. Jika NASA atau badan antariksa lainnya ingin kembali ke planet pertama kita, masyarakat perlu mengetahui mengapa perjalanan ke luar angkasa seperti itu mungkin bermanfaat. Bisakah manusia hidup di Merkurius? Mungkin tidak, namun ada bukti bahwa gagasan ini tidak dibuat-buat seperti yang terlihat pada awalnya.
Dengan munculnya perusahaan luar angkasa komersial seperti SpaceX, mungkin misi baru ke Merkurius bisa menjadi sesuatu yang bisa dicoba lagi oleh manusia. Salah satu tantangan utama penerbangan luar angkasa adalah biaya, dan dengan meningkatnya persaingan dan ketersediaan teknologi, biaya penerbangan luar angkasa semakin menurun. Misi terakhir ke Merkurius adalah pesawat ruang angkasa MESSENGER milik NASA pada tahun 2008.
Mengapa umat manusia harus terus menjelajahi Merkurius dan seluruh tata surya? Ada beberapa alasan bagus mengapa Merkurius masih menjadi target penelitian ilmiah dan astronomi yang menarik.
Terkait: 10 hal teratas yang harus Anda ketahui tentang tabrakan asteroid dengan Bumi
10 Merkurius lebih padat dari semua planet di Matahari kecuali Bumi
Merkuri itu berat, hal ini perlu diingat. Mengapa? Merkurius memiliki inti padat yang terbuat dari besi cair. Setiap kali manusia melakukan perjalanan ke objek lain di tata surya, mereka harus menghadapi efek gravitasi nol atau rendah. Lingkungan dengan gravitasi rendah menguras tubuh manusia, yang berfungsi paling baik di planet tempat manusia dilahirkan, yaitu Bumi.
Meskipun ukurannya kecil, Merkurius mempunyai percepatan gravitasi sebesar 9,85 kaki per detik persegi (3,7 meter per detik persegi). Ini mirip dengan Mars, planet yang ukurannya lebih besar. Medan gravitasi Merkurius yang relatif tinggi, meskipun lebih rendah dari Bumi, memungkinkannya menjadi target eksplorasi manusia di masa depan.[1]
9 Merkurius lebih dingin dari Venus
Merkurius adalah planet yang paling dekat dengan bintang kita, Matahari, namun ia tidak memiliki predikat sebagai planet terpanas. Gelar itu milik Venus, planet kedua dari Matahari. Merkurius tidak memiliki atmosfer yang tebal. Atmosfernya inilah yang oleh para astronom disebut eksosfer, yaitu jejak gas yang sangat kecil. Namun, Merkurius menerima radiasi yang sangat besar dari Matahari, yang berjarak rata-rata 36 juta mil, atau 58 juta kilometer, dari bintang kita.
Suhu Merkurius di sisi yang menghadap Matahari bisa mencapai 800 °F (427 °C). Venus, planet terpanas di Tata Surya, memiliki iklim yang bahkan lebih tidak menyenangkan dibandingkan Merkurius, dengan suhu rata-rata mencapai 872 °F (467 °C) di permukaannya. Eksosfer Merkurius yang tipis mencegah panas membuat Merkurius tetap panas, karena suhu bisa turun hingga -275 °F (-170 °C) di sisi yang jauh dari Matahari.[2]
8 Belum ada wahana antariksa manusia yang pernah mendarat di Merkurius
Merkurius tidak pernah dikunjungi manusia. Sebab, kemampuan melakukan perjalanan ke luar angkasa baru menjadi kemampuan umat manusia selama 60 tahun terakhir. Meskipun teknologi kita masih primitif, perdebatan tentang apakah manusia harus melakukan perjalanan ke planet lain terus berlanjut.
Kebanyakan orang terpaku pada Bulan dan Mars sebagai target potensial. Namun, ada juga kemungkinan membangun kota awan balon di Venus dan kota dengan kawah di Merkurius untuk mempelajari Matahari. Munculnya perusahaan-perusahaan pesawat ruang angkasa yang memiliki dana besar seperti SpaceX dapat membuka pintu bagi pengiriman manusia ke tempat-tempat yang belum pernah mereka kunjungi sebelumnya, termasuk planet pertama Merkurius.[3]
7 Merkurius memberikan bukti bagi teori relativitas umum
Planet Merkurius memiliki orbit berbentuk elips. Saat Merkurius mengorbit Matahari, jaraknya dari Matahari berubah sebesar 14,3 juta mil (23 juta kilometer). Orbit Merkurius yang elips memiliki eksentrisitas terbesar dibandingkan planet besar mana pun di tata surya kita. Dalam bahasa sehari-hari, ini berarti oval orbit Merkurius lebih panjang dan kurang melingkar dibandingkan tujuh planet lain di tata surya.
Pengukuran orbit Merkurius sebelumnya menunjukkan perbedaan antara prediksi teori gravitasi Newton dan bagaimana orbitnya mengalami presesi atau goyangan saat Merkurius mengelilingi Matahari beberapa kali.
Teori relativitas umum Albert Einstein menjelaskan perilaku orbit Merkurius yang sebenarnya dengan benar. Menurut penjelasan yang diberikan oleh University of Central Florida, teori relativitas umum Einstein memperkirakan bahwa presesi, atau goyangan, orbit Merkurius akan lebih besar daripada prediksi hukum gravitasi Newton. Inilah yang diamati para astronom saat mengukur orbit Merkurius.[4]
6 Merkurius memiliki atmosfer tipis dengan oksigen dan natrium
Meskipun terlihat agak mirip dengan bulan kita, pengamatan terbaru terhadap Merkurius mengungkapkan bahwa ia memiliki struktur inti dan permukaan yang jauh lebih beragam dibandingkan Bulan. Merkurius lebih berat daripada bulan di Bumi karena memiliki inti besi dan atmosfer tipisnya mengandung oksigen dan natrium. Namun atmosfer Merkurius tidak cukup untuk bernafas.
Namun, oksigen di atmosfer Merkurius adalah penemuan menarik yang dapat membantu teknologi masa depan jika manusia menjelajahi Merkurius. Ada kemungkinan oksigen di Merkurius dapat ditangkap dan dikompresi untuk digunakan oleh para astronot. Berdasarkan data dari wahana antariksa MESSENGER NASA, oksigen membentuk 42% atmosfer tipis Merkurius.[5]
5 Merkurius adalah planet terkecil
Merkurius adalah planet kecil dan berat. Jika Merkurius seukuran bola golf, maka Bumi akan seukuran jeruk bali. Merkurius merupakan planet terkecil dari delapan planet besar di tata surya. Ia memiliki diameter 3.032 mil (4.880 kilometer).
Meski kecil dibandingkan dengan diameter planet Bumi kita yang 7.926 mil (12.760 kilometer), Merkurius masih merupakan objek besar yang membutuhkan waktu lama untuk dijelajahi sepenuhnya oleh astronot manusia atau robot penjelajah. Penjelajah mana pun yang menghabiskan lebih dari beberapa bulan di planet ini mungkin perlu ditenagai oleh generator isotop nuklir kecil, terutama jika ia mengunjungi sisi bayangan Merkurius atau kawahnya.[6]
4 Merkurius akan tampak abu-abu gelap di mata manusia
Apa yang Anda lihat bergantung pada jenis mata atau kamera yang Anda miliki. Seperti kata pepatah, “Kecantikan ada di mata yang melihatnya.” Perbedaan panjang gelombang radiasi elektromagnetik yang datang dari Matahari pada akhirnya membuat Merkurius tampak abu-abu gelap bagi pengamat manusia.
Bagi pengamat luar bumi yang memiliki penglihatan inframerah, separuh Merkurius akan bersinar sangat terang karena menyerap banyak panas dari Matahari di dekatnya. Separuh lainnya akan menjadi gelap. Merkurius akan menjadi dunia yang relatif membosankan dan membosankan bagi manusia. Namun, masih ada banyak peluang untuk memanfaatkan energi cahaya untuk panel surya guna memberi daya pada stasiun ruang angkasa di masa depan.[7]
3 Di Merkurius, air berbentuk es
Pada tahun 2008, pesawat ruang angkasa MESSENGER menemukan bukti adanya air es di kawah besar Merkurius yang gelap. Es air ini mungkin berasal dari Merkurius atau mungkin akibat tabrakan komet. Air es di planet yang paling dekat dengan Matahari nampaknya agak aneh.
Namun, keberadaan air es di Merkurius dapat memberikan pendinginan dan hidrasi bagi manusia penjelajah luar angkasa di masa depan yang mengunjungi Merkurius. Tanpa air, sulit untuk mempertahankan kehidupan permanen di permukaan bumi. Pertanian terraforming atau akuaponik hanya mungkin dilakukan di pangkalan luar angkasa di masa depan jika ada air atau dibawa ke planet ini dari Bumi.[8]
2 Unsur Kromium ada di Merkurius
Kami suka menggunakan krom untuk membuat baja tahan karat dan pelapisan mengkilap untuk mobil klasik kami. Melapisi pesawat ruang angkasa dengan baja tahan karat melindunginya dari korosi saat bertemu air laut saat mendarat di lautan bumi. SpaceX terkenal memproduksi roket Falcon dan Starship dari baja tahan karat, yang komposisi kimianya mengandung kromium. Di masa depan, Merkurius bisa menjadi tempat yang ideal untuk menambang unsur tersebut karena Merkurius memiliki banyak kromium.
Persentase kromium di Merkurius paling besar terdapat pada inti beratnya. Krom tahan terhadap korosi yang mempengaruhi struktur dan kendaraan yang terkena cuaca luar ruangan dan asam beracun. Jumlah rata-rata kromium di permukaan Merkurius adalah 200 ppm, menurut data dari wahana antariksa MESSENGER.[9]
1 Merkurius memiliki kawah tumbukan yang sangat besar
Merkurius sangat rentan terhadap benturan benda-benda seperti asteroid dan komet karena atmosfernya yang tipis sehingga tidak memberikan banyak perlindungan. Permukaan Merkurius ditutupi dengan kawah, beberapa di antaranya berukuran sangat besar. Permukaannya terlihat mirip dengan bulan Bumi, yang juga banyak mengalami pelapukan akibat kawah. Salah satu kawah besar disebut Kawah Rembrandt. Lebarnya 444 mil (715 kilometer).
Kawah monster ini difoto oleh pesawat ruang angkasa MESSENGER pada tahun 2008. Masih belum diketahui apakah kawah besar ini disebabkan oleh asteroid atau komet, tetapi dampaknya mungkin lebih besar dari gedung pencakar langit. Kawah adalah tempat yang lebih baik untuk membangun pangkalan luar angkasa di planet panas karena bayangannya melindungi bentuk kehidupan dari radiasi berlebihan dari bintang seperti Matahari.[10]
+ There are no comments
Add yours