Perekonomian Rusia tangguh, namun demikian

Ikon Sudut Bawah Ikon yang berbentuk sudut mengarah ke bawah. Presiden Rusia Vladimir Putin terlihat di layar saat rapat umum pendukungnya pada 16 Desember 2023 di Moskow, Rusia. Getty Images Perekonomian Rusia tampak tangguh di tengah perang dengan Ukraina yang sudah memasuki tahun ketiga. Namun, belum ada kepastian apakah Rusia akan mampu menanggung dampak perang lebih lama lagi, kata seorang sejarawan ekonomi kepada The Guardian. Belanja militer telah mencapai 40% anggaran Rusia, melampaui belanja sosial.

Perekonomian Rusia tampak tangguh setelah lebih dari dua tahun berperang dengan Ukraina – namun masyarakat Rusia sendiri mungkin tidak sabar dengan situasi ini, kata seorang pakar.

Moskow telah meningkatkan belanja militer tahun ini, menghabiskan sekitar 40% anggarannya untuk pertahanan dan keamanan.

Jadi, meski kehidupan di Rusia tampaknya masih berjalan normal, “Putin tidak tahu lebih banyak dari kita di mana letak toleransi rakyat Rusia,” Mark Harrison, sejarawan ekonomi dan profesor emeritus di Universitas Warwick, mengatakan kepada The Guardian. laporan pada hari Sabtu.

“Proses merasakan batasan-batasan ini berbeda bagi seorang pemimpin otoriter karena dia tahu bahwa orang-orang tidak akan memberitahunya, atau setidaknya sampai sudah terlambat bagi kepemimpinannya untuk bertahan,” tambah Harrison kepada media.

Meskipun ada sanksi besar dari Barat atas invasi mereka ke Ukraina, Rusia mencatat pertumbuhan PDB sebesar 3,6% pada tahun 2023 setelah penurunan sebesar 1,2% pada tahun 2022. Dana Moneter Internasional memperkirakan perekonomian akan terus tumbuh, tumbuh sebesar 2% pada tahun 2024. 6%.

Para ahli mengatakan bahwa pertumbuhan Rusia terutama didorong oleh belanja perang dan subsidi. Artinya, hanya sedikit manfaat pertumbuhan yang dinikmati oleh rata-rata orang Rusia.

Alexandra Prokopenko, mantan pejabat di bank sentral Rusia, menulis di Foreign Affairs pada bulan Januari bahwa belanja militer Moskow saat ini telah melampaui belanja sosial untuk pertama kalinya sejak jatuhnya Uni Soviet.

“Langkah menuju ekonomi militer ini mengancam kebutuhan sosial dan pembangunan,” tulis Prokopenko, seorang peneliti di Carnegie Russia Eurasia Center dan peneliti di Pusat Studi Eropa Timur dan Internasional.

Rusia juga menghadapi kekurangan tenaga kerja akibat perang dan pengurasan otak (brain drain) secara besar-besaran.

Seorang pejabat Dana Moneter Internasional (IMF) mengatakan kepada CNBC awal bulan ini bahwa perekonomian Rusia mulai terlihat seperti Uni Soviet.

Putin sedang mengincar masa jabatan presiden kelima dalam pemilu Rusia mendatang pada bulan Maret. Pemimpin Rusia berusia 71 tahun itu diperkirakan akan memenangkan perlombaan melawan tiga rivalnya.

You May Also Like

More From Author

+ There are no comments

Add yours