

Gambar representatif
(IAN)
Ingat masa-masa awal pandemi COVID-19 ketika semua orang terjebak di rumah? Sementara beberapa orang mulai memanggang penghuni pertama dan makan sebanyak-banyaknya, banyak yang memilih membuat bayi! Atau begitulah yang awalnya dipikirkan para ahli ketika mereka memperkirakan akan terjadi ledakan bayi akibat COVID. Ketika kenyataan mulai terjadi, para peneliti mencatat bahwa hal tersebut sebenarnya merupakan sebuah kegagalan kecil (baby bust), bukan sebuah ledakan (boom), dan menghubungkan tren tersebut terutama dengan ketidakpastian ekonomi.
Sekarang, jika kita melihat bukti-bukti baru, penurunan tersebut mungkin lebih disebabkan oleh dampak biologis dari pandemi ini, dibandingkan dampak ekonomi. Dalam studi pertama, para peneliti baru-baru ini mengungkapkan penurunan hasrat seksual perempuan cisgender yang signifikan setelah terinfeksi COVID-19. Jadi, apakah pandemi ini bertindak seperti saudara kembar Cupid yang jahat?
COVID, pembunuh libido
Menurut studi baru dari para peneliti Universitas Boston, COVID-19 mungkin memengaruhi momen paling intim kita selain batuk terus-menerus dan nyeri tubuh!
Studi ini menyelidiki pengalaman lebih dari 2.000 perempuan, beberapa di antaranya tertular COVID-19 dan yang lainnya tidak. Hasilnya sangat mencolok: perempuan yang mengidap COVID melaporkan penurunan libido yang signifikan dibandingkan rekan-rekan mereka.
Namun ceritanya tidak berakhir di situ. Wanita dengan COVID jangka panjang, yang gejalanya menetap selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan, menghadapi penurunan yang lebih tajam. Mereka melaporkan masalah gairah, pelumasan, orgasme, dan bahkan rasa sakit saat berhubungan seks yang jauh lebih buruk.
Namun penting untuk dicatat bahwa penelitian BU sebelumnya tidak menemukan dampak negatif vaksinasi COVID-19 terhadap kesuburan atau menstruasi perempuan. Jadi vaksinasi tetap penting untuk kesehatan dan perlindungan secara keseluruhan.
Ada faktor fisiologis dan psikologis yang berperan
Bahkan setelah empat tahun berlalu, bayang-bayang pandemi masih tetap membayangi. Penyakit ini terus memengaruhi sebagian besar kesehatan fisik kita dengan gejala-gejala COVID yang berkepanjangan seperti kabut otak, nyeri tubuh, dan kelelahan.
Para peneliti yakin kombinasi beberapa faktor mungkin berperan. Dampak fisiologis dari COVID dapat membuat tubuh kurang siap untuk berhubungan intim. Namun ada juga aspek psikologis: kecemasan, kelelahan, dan stres akibat pandemi ini mungkin telah mengurangi hasrat dan kegembiraan.
Studi ini juga mengakui adanya perubahan sosial yang lebih luas akibat pandemi ini. Dengan lebih sedikitnya acara sosial dan kehadiran anak-anak yang terus-menerus, peluang untuk keintiman, baik sendirian atau bersama-sama, mungkin telah berkurang.
Sementara itu, penulis penelitian mengakui bahwa penelitian ini sepenuhnya bersifat korelasional dan memiliki sejumlah keterbatasan – seperti hanya memasukkan perempuan cisgender dan tidak memasukkan orang-orang transgender atau beragam gender. Namun hal ini tetap menggarisbawahi pentingnya komunikasi terbuka tentang kesehatan seksual, terutama bagi perempuan yang telah lama berjuang melawan COVID.
Jika Anda mengalami masalah seksual, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan penyedia layanan kesehatan Anda. Ingatlah bahwa Anda tidak sendirian dan ada sumber daya yang tersedia untuk memberikan dukungan dan nasihat.
Hasil penelitian ini dijelaskan secara rinci dalam Jurnal Pengobatan Seksual dan dapat diakses di sini.
**
Untuk informasi terkini tentang cuaca, ilmu pengetahuan, ruang angkasa, dan COVID-19 saat bepergian, unduh Aplikasi Saluran Cuaca (di toko Android dan iOS). Gratis!
+ There are no comments
Add yours