Pernahkah Anda berpikir bahwa otak kita mungkin lebih mudah menerima pembelajaran dari orang yang kita sukai dibandingkan orang yang tidak kita sukai? Sebuah studi baru-baru ini yang dilakukan oleh para peneliti di bidang ilmu saraf kognitif mengungkapkan hal ini – kemampuan kita untuk mempelajari dan membuat hubungan antara berbagai informasi sangat dipengaruhi oleh perasaan kita terhadap orang yang menyajikan informasi tersebut. Pada dasarnya, jika informasi berasal dari orang yang kita sukai, kita akan lebih mudah mengingat dan mengasosiasikannya dibandingkan jika informasi tersebut berasal dari orang yang tidak kita sukai.
Temuan baru ini dipublikasikan di jurnal Psikologi komunikasi.
Motivasi penelitian ini berasal dari keinginan untuk memahami mekanisme yang mendasari proses pembelajaran dan ingatan kita, khususnya dalam konteks dinamika sosial. Memori memainkan peran penting dalam kemampuan kita untuk belajar dari pengalaman baru dan memperbarui pengetahuan yang ada. Dengan memeriksa bagaimana preferensi sosial mempengaruhi integrasi memori—proses dimana kita menghubungkan informasi di berbagai peristiwa pembelajaran—para peneliti berfokus pada bagaimana lingkungan sosial kita dapat membentuk pemahaman kita tentang dunia.
Untuk menyelidiki fenomena ini, tim peneliti yang dipimpin oleh Inês Bramão, profesor psikologi di Universitas Lund, melakukan serangkaian eksperimen. Peserta diberi tugas yang melibatkan pengkodean dan mengingat kembali asosiasi antara berbagai benda seperti mangkuk, bola, sendok, gunting, dan berbagai benda sehari-hari lainnya.
Objek-objek ini diwakili oleh kepribadian yang disukai atau tidak disukai oleh para peserta berdasarkan serangkaian karakteristik termasuk pandangan politik, hobi, dan preferensi musik. Pengaturan ini memungkinkan para peneliti untuk mensimulasikan dinamika sosial dunia nyata dalam lingkungan eksperimental yang terkendali, memberikan gambaran bagaimana bias sosial kita dapat meluas ke dalam proses kognitif kita, khususnya integrasi memori.
Untuk menyusun preferensi sosial ini, peserta diminta membuat profil untuk kelompok dalam (individu yang disukai) dan kelompok luar (individu yang tidak disukai), dengan memilih dari serangkaian atribut yang telah ditentukan sebelumnya yang mencakup spektrum minat dan keyakinan yang luas. Aspek personalisasi ini penting karena memastikan bahwa bias peserta benar-benar tercermin dalam eksperimen, sehingga meningkatkan validitas ekologis dari temuan penelitian.
Inti dari penelitian ini berkisar pada tugas inferensi asosiatif, sebuah metode yang digunakan untuk menilai bagaimana peserta dapat menghubungkan informasi dalam peristiwa pembelajaran yang terpisah namun terkait. Secara khusus, mereka diminta untuk mengingat pasangan objek terkait yang disajikan dalam konteks berbeda, dengan tujuan akhir untuk menyimpulkan hubungan antara objek yang tidak terhubung secara langsung tetapi memiliki hubungan asosiatif yang sama melalui objek atau konteks perantara.
Tugas ini dirancang dengan cermat untuk meniru proses integrasi memori dalam kehidupan sehari-hari, di mana kita sering kali harus membuat hubungan antara berbagai informasi untuk mempelajari hal-hal baru atau memperbarui pengetahuan yang sudah kita miliki.
Para peneliti menemukan bahwa partisipan sebenarnya lebih mahir dalam mengingat dan menghubungkan informasi ketika disampaikan oleh orang yang mereka sukai. Efek ini diamati dalam berbagai ukuran, termasuk kemudahan peserta dalam mengkodekan informasi, kemampuan mereka untuk menyimpulkan hubungan antara objek yang tidak terkait langsung, dan ingatan mereka terhadap informasi yang terkait dengan individu yang disukai dan tidak disukai. Pada dasarnya, penelitian ini memberikan bukti kuat bahwa preferensi sosial kita secara signifikan mempengaruhi proses kognitif kita, terutama yang berkaitan dengan pembelajaran dan memori.
Bias dalam integrasi memori dapat berperan dalam menciptakan dan memperkuat keyakinan yang terpolarisasi dalam kelompok sosial. Dengan memprioritaskan informasi dari individu favorit, kita cenderung mengintegrasikan dan menerima informasi yang konsisten dengan keyakinan kita, yang dapat menyebabkan persepsi realitas yang lebih terbagi di antara kelompok sosial yang berbeda.
“Kami lebih cenderung membuat koneksi baru dan memperbarui pengetahuan dari informasi yang disajikan oleh kelompok yang kami sukai. Kelompok pilihan seperti itu biasanya memberikan informasi yang konsisten dengan keyakinan dan gagasan yang sudah ada sebelumnya, sehingga berpotensi memperkuat pandangan yang terpolarisasi,” jelas Mikael Johansson, profesor psikologi di Lund University.
Misalnya, Bramão menjelaskan: “Partai politik melakukan argumentasi dengan menaikkan pajak demi kepentingan sektor kesehatan. Kemudian, Anda mengunjungi pusat kesehatan dan melihat adanya peningkatan. Jika Anda bersimpati dengan partai yang ingin meningkatkan layanan kesehatan melalui pajak yang lebih tinggi, kemungkinan besar Anda mengaitkan peningkatan tersebut dengan kenaikan pajak, meskipun peningkatan tersebut mungkin mempunyai penyebab yang sangat berbeda.”
Namun, penelitian bukannya tanpa keterbatasan. Sifat penelitian yang bersifat online, meskipun diperlukan untuk menjangkau kelompok peserta yang beragam, memperkenalkan variabel-variabel yang dapat mempengaruhi kualitas data. Selain itu, menggunakan kriteria yang dipilih sendiri untuk menyukai dan tidak menyukai individu sekaligus meningkatkan validitas ekologis dari temuan juga dapat membatasi kemampuan generalisasi hasil pada konteks atau populasi lain. Penelitian di masa depan dapat mengeksplorasi dinamika ini lebih jauh, mungkin dengan memasukkan induksi kelompok yang lebih terkontrol dan menguji pengaruh sumber informasi yang netral versus polarisasi.
Studi “Sumber dalam kelompok meningkatkan inferensi asosiatif” ditulis oleh Marius Boeltzig, Mikael Johansson dan Inês Bramão.
+ There are no comments
Add yours